Selusin Jalan Lain Menuju Roma

Adam A. Abednego
4 min readJun 29, 2020
Photo by Carlos Ibáñez on Unsplash

Selama beberapa bulan kemarin, pemerintah mengimbau kita untuk tinggal di Roma. Masa-masa karantina di Roma dihabiskan dengan mencari cara bagaimana menjaga kewarasan dan melebur mesra dengan rasa sepi.

Sesekali aku keluar, membeli perangko, menempelkan di kepala, dan aku berubah menjadi surat-surat untuk menyampaikan ke siapa pun yang mau membaca kalau selama di Roma, aku baik-baik saja.

Berikut adalah catatan-catatan kecil selama tinggal di Roma.

1.

Hari-hari melumat bersih tubuhku. Aku bangun pukul 02:17 sore, setelah menunda alarm lebih banyak daripada sekelompok muda-mudi yang masih mondar-mandir menginjak jam-jam sahur. Kau masih menagih air mata yang tertinggal di bantal, mimpi semalam belum lunas.

Aku bergegas menggosok gigi dan terduduk di kamar mandi sampai penyanyi di pengeras suara ponselku kelelahan.

Aku ada di Roma.

2.

Aku mengikat tali sepatu dan memakai kesedihan sebagai tameng dari pikiranku sendiri. Kedua kakiku berubah menjadi badai setiap aku melangkah keluar. Selain usia, cuaca juga ternyata sulit ditebak.

Di jalanan, orang-orang menatap tajam karena di kepalaku curiga masih tinggal sebagai binatang peliharaan. Aku lupa memberinya makan, hari ini mereka puasa lagi. Aku lekas menaiki kendaraan dan segera kembali sebelum matahari mengambil jatah cuti.

Aku akan pulang ke Roma.

3.

Akhir pekan, Roma ramai dikunjungi turis-turis yang sudah tidak asing.
Mereka saling mengambil gambar, mengangkat anggur, dan bersorak seperti kerabat dekat yang baru bertemu setelah seribu tahun terpisah. Padahal, salah satu dari mereka hanya tinggal 5 kilometer dari pusat kota. Aku pernah membantu mengusir penderitaan dari rumah mereka.

Mereka membawa buntelan berisi makanan, harapan, dan kebahagiaan untuk dibagikan ke orang-orang lokal, meski mereka sendiri kekurangan.

Untuk kali ini, aku bahagia tinggal di Roma.

4.

Penduduk Roma seolah mengenaliku meski aku tidak benar-benar tahu mereka. Aku saja masih kesulitan mengenali diriku sendiri.

“Kau masih saja tidak dewasa ya,” celetuk pelukis jalanan.

Dalam hati aku berteriak, siapa juga yang mau tumbuh dewasa kalau cuma bisa berpura-pura.

Aku meninggalkan Roma.

5.

Selain gelato, aku tidak pernah benar-benar menyukai makanan Roma. Di sini orang-orang melahap pizza serupa negara memangkas habis hak-hak rakyatnya. Fusilli dan makaroni sempat dianggap tidak nasionalis karena terus berdebat perihal siapa yang paling digandrungi turis-turis timur.

Aku memanggil pelayan, memesan kopi, dan menelan habis setelah membaca Matius 6:34: “Pahit sehari cukuplah untuk sehari.”

Roma terlalu ramai untukku yang sepi, tetapi aku masih ingin tinggal lebih lama lagi.

6.

Meja makan dikelilingi 6 kursi, aku orang ke-7. Aku terasing di kota yang asing. Malam ini aku akan tidur di pelupuk matamu, ketika kau mendengkur di pelukan kekasihmu.

Aku membenci Roma.

7.

Ibu menelpon menanyakan kabar. Aku menjawab, “Baik-baik saja.” Sebab kata orang, kabar baik adalah pelapis dari kesedihan-kesedihan yang bertunas di dasar jantung.

Ia kembali bertanya, “Sebaik apa?”

“Sebaik seorang Ibu yang menanyakan kabar anaknya, meski ia tidak pernah balik bertanya,” jawabku dalam hati. Sinyal terputus-putus. Ibu meminta aku mengulang.

“Tidak apa, Bu. Aku sedang di jalan pulang.”

“Pulang kemana, Nak? Bukannya kau di Roma?”

Lain kali aku akan mengajak Ibu ke Roma, supaya Ibu tahu kalau luas-kecilnya Roma sangat bergantung pada suasana hati penduduknya.

8.

Nanas dan semangka ada di meja. Belum selesai aku mengunyah potongan pertama, gerombolan semut sudah antre meminta jatah. Aku mencuri dengar kalau mereka juga akan melumat habis seisi Roma.

Lagipula, Roma bukan hanya milikku seorang.

9.

Hari ini aku ingin tidur lebih awal. Aku dibimbing tidur oleh rekaman suara. Aku menarik selimut setelah 45 menit berlalu. Isi kepalaku melayang dan kesabaranku terbang. Kau masih tetap menjadi alasan utamaku tidak bisa tidur dengan tenang.

Besok aku pergi dari Roma.

10.

Gereja-gereja di Roma berubah menjadi gudang sejak jemaat takut bertatap muka. Orang-orang sibuk menyimpan kesombongan, iri hati, dan serakah di altar yang mereka bilang suci. Pastor dan pendeta beralih ceramah melalui layanan streaming untuk menyasar pasar yang lebih. Aku bergumam dalam hati, sejak kapan agama menjadi komoditi?

Ketika ada yang bertanya mengapa selama di Roma aku tidak ke gereja, dengan santai aku akan menjawab, “Tuhan ada di hati kita masing-masing.”

Penduduk Roma menganggap aku sudah gila.

11.

Aku masih tinggal di Roma.

Orang-orang di luar sedang menunggu giliran swafoto di gerai makanan cepat saji. Mereka mengabadikan momen sebelum gerai tersebut rata dengan tanah — juga sebelum mereka rata dengan keangkuhan mereka sendiri. Sementara aku susah payah hidup kesekian kali, hanya untuk mati sekali lagi.

12.

Penduduk Roma bergegas berlibur ketika batas kota telah dibuka. Konser di rumah sakit. Membeli nomor ponsel baru demi bisa beribadah. Penjual sepeda laris manis. Tiba-tiba penduduk Roma lebih mencintai olahraga dibanding dirinya sendiri.

Aku jatuh cinta pada Roma meski aku tidak pernah benar-benar ada di sana.

--

--